Pengertian 1 Phase dalam Kelistrikan

Prinsip Dasar Sistem Kelistrikan
Sistem kelistrikan terdiri atas tegangan, arus dan hambatan. Tegangan terjadi karena adanya beda potensial antara 2 kutub. Sedangkan arus listrik terjadi karena perpindahan muatan listrik antara dua kutub yang mempunyai beda potensial. Bila perpindahan muatan listrik tersebut melalui penghantar, maka secara umum penghantar tersebut memiliki hambatan atau resitansi.

Sistem kelistrikan secara umum ada 2 macam yaitu sistem listrik AC (alternating current) atau arus bolak-balik dan sistem listrik DC (direct current) atau arus searah.

Perbedaannya adalah :

Sistem DC (Arus Searah)
Adalah sistem kelistrikan dimana muatan aliran listriknya adalah searah atau terjadi pada arah yang sama. Contoh sistem DC adalah peralatan yang menggunakan battery atau accu sebagai sumber dayanya. Hal paling penting dalam sistem DC adalah kutub positif (+) dan negatif (-) yang tidak boleh terbalik. Untuk lebih detilnya akan kami bahas dalam artikel lainnya

Sistem AC (Arus Bolak-Balik)
Sistem kelistrikan ini berbentuk gelombang sinusoidal dimana polaritasnya berubah-ubah antara kutub positif dan negatif. Sistem kelistrikan ini sangat umum dipakai. Suplai listrik dari PLN menggunakan sistem AC. Hal yang membedakan dengan sistem DC adalah kutub positif (+) dan negatif (-) boleh terbalik. Contohnya adalah ketika colokan listrik dipasang pada stop kontaknya, dibolak-balik tidak masalah.

Bagaimana Mengetahui Sistem Listrik AC dan DC?

gbr. cara mengukur tegangan dengan voltmenter

Tidak perlu bingung dengan pertanyaan diatas, karena bagaimanapun juga hal tersebut tidak kelihatan secara kasat mata. Cara yang paling mudah adalah menggunakan alat ukur yaitu voltmeter. Dengan voltmeter bisa diketahui listriknya adalah jenis listrik AC atau bukan. Kalau di laboratorium bisa menggunakan osciloscope untuk melihat bentuk gelombangnya, apakah sinusoidal atau bukan.


gbr. cara mengukur tegangan dengan Osciloscope

Secara mudahnya, listrik AC dapat dijumpai pada instalasi listrik rumah yang sumbernya berasal dari kabel PLN dan berujung pada stop kontak yang kita gunakan atau titik-titik lampu yang terpasang. Dan kemudahan lainnya, saat memasukkan colokan listrik ke stop kontak itu boleh terbalik atau bolak-balik ditukar. Hal ini dikarenakan sifat listrik AC yang bolak-balik tadi.

Fasa Tunggal/single phase
Selain itu, sistem kelistrikan juga mengenal istilah 1 phase atau single phase atau fase tunggal dan 3 phase atau phase banyak. Sistem 1 phasa adalah sistem kelistrikan yang menggunakan 1 gelombang sinusoidal seperti sistem kelistrikan AC secara umum.

Lihat gambar dibawah :

Gbr. gelombang sinusoidal pada sistem kelistrikan AC.

Sedangkan sistem 3 phase menggunakan 3 gelombang sinusoidal yang mempunyai perbedaan sudut phase masing-masing 120 derajat.

Mengenai sistem 3 phase dibahas di artikel “Memahami Sistem 3 Phase dalam Kelistrikan”, akan tetapi mudahnya saja, mayoritas pelanggan listrik di perumahan (daya dibawah 3500VA) umumnya menggunakan listrik 1 phase dengan tegangan 220V.

Perlu diketahui, tegangan listrik 220V berbahaya bagi makhluk hidup bila mengalir melewati tubuh, atau biasa disebut kesetrum. Karena itu berhati-hatilah dalam menggunakan listrik AC ini. Pemahaman yang benar mengenai listrik akan sangat membantu keselamatan anda.

Pada negara tertentu tegangan 1 phase ini memiliki rating tegangan 110VAC, 115VAC, 120VAC, 127VAC, 220VAC, 230VAC. Untuk lebih detilnya bila anda sedang berkunjung ke negara tertentu maka dapat melihat detilnya “klik disini”.

Memahami sistem kelistrikan 1 phase akan menjadi dasar untuk memahami sistem kelistrikan 3 phase. Mengapa ada sistem 3 phase ini kami bahas dalam artikel “Memahami Sistem 3 Phase dalam Kelistrikan“.